Kadek Fendy Sutrisna
Dukung
Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan
Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook
ini -> Catatan Fendy Sutrisna
Energi
listrik adalah bentuk energi yang paling mudah untuk dikonversikan ke
dalam bentuk energi lain, sehingga energi listrik adalah media yang
digunakan untuk memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lain untuk
digunakan oleh aplikasi-aplikasi di tempat tersebut. Kemajuan
pembangunan saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kelistrikan.
Dengan adanya listrik maka perkembangan berbagai aspek kehidupan
masyarakat akan relatif jauh lebih cepat, hal ini sangat terasa terutama
di sektor pendidikan dan industri. Kedua sektor tersebut kini sangat
bergantung pada listrik.
Indonesia
adalah negara kepulauan dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.
Namun rasio elektrifikasi Indonesia masih sangat rendah dan
infrastruktur kelistrikan terpusat di Pulau Jawa. Sebagai contoh, sampai
saat ini Bali masih tergantung dengan jaringan listrik Jawa-Bali untuk
pasokan energi listrik. Karenanya, ketika terjadi gangguan koneksi
Jawa-Bali, dampaknya sangat besar bagi Bali yang notabene berkembang
dalam industri kepariwisataannya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah membangun pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil pada lokasi-lokasi domestik diluar pulau Jawa. Akan tetapi hal ini kurang tepat untuk dilakukan mengingat harga minyak dunia yang semakin melonjak dan tentunya bila ditinjau dari aspek lingkungan, pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil menimbukan polusi karbon yang cukup signifikan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah membangun pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil pada lokasi-lokasi domestik diluar pulau Jawa. Akan tetapi hal ini kurang tepat untuk dilakukan mengingat harga minyak dunia yang semakin melonjak dan tentunya bila ditinjau dari aspek lingkungan, pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil menimbukan polusi karbon yang cukup signifikan.
Solusi kedua diantaranya
adalah dengan lebih memanfaatan potensi energi terbarukan domestik yang
dimiliki tiap-tiap daerah, seperti pembangkit listrik tenaga bayu/angin
(PLTB), surya (PLTS), mikrohidro, geotermal. Sayangnya, banyak
permasalahan yang dihadapi untuk mengimplementasikan pembangunan
pembangkit listrik ini di Indonesia, antara lain masalah biaya,
perawatan, ketersediaan dan teknologi. Selain itu, tanpa adanya jaringan
interkoneksi yang menghubungkan seluruh pulau di Indonesia, renewable energy
akan susah termanfaatkan secara efisien dan ekonomis. Ingat bahwa semua
proyek renewable energy di Eropa dan Amerika sukses karena semua
jaringannya terinterkoneksi.
SOLUSI UNTUK PEMANFAATAN PLTB
Sebagai
salah satu contoh dapat dilihat dalam proyek pembangunan pembangkit
listrik tenaga bayu (PLTB) yang saat ini gencar dipertanyakan. Dimana
ketersediaan angin di Indonesia masih dipertanyakan unjuk kerjanya untuk
dapat menghasilkan listrik yang kontinu pada kecepatan angin yang
berubah-ubah dengan daya yang besar dan kualitas yang baik.
Salah satu teknologi yang dapat mengatasi permasalahan ini adalah penggunaan sistem turbin angin direct-drive permanet magnet generator yang dapat menghasilkan listrik secara optimal pada rentang kecepatan angin rendah dan berubah-ubah.
Sistem turbin angin ini walaupun dapat menyelesaikan masalah
ketersediaan angin, namun ditinjau dari segi biaya masih cukup mahal
untuk direalisasikan dalam skala besar.
Sebaliknya, bila menggunakan teknologi fixed-speed induction generator, walaupun biaya yang diperlukan paling murah diantara sistem turbin angin lainnya, namun harus terkoneksi pada grid agar dapat menghasilkan produksi daya yang optimal pada kecepatan angin yang berubah-ubah.
Penulis artikel ini mengajukan untuk mencoba suatu sistem turbin angin hybrid antara direct-drive permanet magnet generator dan fixed speed induction generator yang bertujuan untuk mereduksi biaya yang dibutuhkan untuk membangun sistem PLTB skala besar. Sistem gabungan ini menggunakan teknologi direct-drive permanet magnet generator sebagai pengganti fungsi grid, dan secara bersamaan keuntungan biaya yang murah juga didapatkan dari penggunaan teknologi fixed speed induction generator.
Disamping
itu, dalam artikel ini juga diusulkan penggunaan komponen elektronika
daya yang dapat mengoptimalkan produksi daya dan meminimalisir ukuran
sistem yang diusulkan secara keseluruhan. Dalam hal ini penggunaan trafo
diminimalisir karena dinilai membuat sistem menjadi semakin besar,
mahal dan tentunya memiliki nilai susut daya yang cukup besar
dibandingkan dengan menggunakan komponen elektronika daya yang
diusulkan.
Referensi sistem
pembangkit hybrid tenaga bayu yang dibicarakan pada artikel ini
adalah yang memiliki kapasitas diatas 0.5 MW. Tegangan kerja yang digunakan untuk
mendistribusikan listrik ke pusat-pusat beban adalah 11 kV AC. Sistem
ini cocok diaplikasikan untuk membangun desa mandiri.
Semoga
artikel ini dapat menjadi suatu langkah awal terhadap solusi dari
permasalahan pemanfaatan energi angin di negara Indonesia.
No comments:
Post a Comment