Oleh : Kadek Fendy Sutrisna
Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna
Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan Indonesia dengan klik link LIKE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini -> Catatan Fendy Sutrisna
Mengapa harus PLTN? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh masyarakat kepada orang-orang atau negara yang tertarik untuk mengembangkan teknologi atau membangun pembangkit listrik jenis ini.
Masyarakat dunia bukan hanya masyarakat Indonesia sering paranoid terhadap kata nuklir, yang identik dengan istilah bom nuklir, senjata pemusnah masal, dan aksi teror. Hal lain yang membuat masyarakat paranoid terhadap kata nuklir tentu saja karena adanya beberapa peristiwa kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Chernobyl di tahun 1986, kecelakaan TMI di Amerika, dan yang terbaru adalah kecelakaan PLTN Fukushima akibat tsunami di Jepang, 13 Maret 2011 tahun ini.
Sebagai pembangkit tipe base (beban dasar), dimana dengan pertimbangan tren harga energi dunia, migas dan batubara yang terus meningkat, tenaga nuklir sebenarnya adalah solusi terbaik untuk pembangkit listrik yang ramah lingkungan dan bebas polusi CO2.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir sangatlah berbeda dengan apa yang dibayangkan selama ini. Masyarakat pada umumnya membiarkan mitos dan kesalahpahaman tetap berlangsung, seperti konsep bahwa bahan bakar nuklir komersil dapat digunakan untuk senjata nuklir, ataupun dengan meneror masyarakat untuk menyakini bahwa membangun PLTN berarti memilih resiko tertinggi untuk keberlangsungan manusia di masa depan. Tidak ada korban jiwa untuk kecelakaan PLTN Fukushima di Jepang maupun di Amerika.
Negara yang paling banyak menggunakan PLTN adalah perancis, dengan presentase lebih dari 80% dengan standard safety sebesar 99,999%. Perancis juga mengolah ulang limbah nuklir untuk digunakan kembali sehingga dapat mengurangi jumlah dan resiko dari proses penyimpanan bahan bakar yang sudah digunakan. Sampai saat ini tidak ada insiden kecelakaan nuklir apapun di Perancis.
Uranium sebagai bahan bakar PLTN mampu menghasilkan energi listrik yang jauh lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil lainnya seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam. William Tucker di dalam bukunya yang berjudul Terrestrial Energy, mengatakan bahwa tenaga nuklir menghasilkan 2 juta kali energi lebih banyak per setara unit bahan bakar ketimbang bahan bakar fosil. Atau dengan kata lain PLTU besar dengan daya keluaran yang sama akan menerima kiriman 100 gerbong batu bara setiap 3-4 kali seminggu, sedangkan PLTN hanya menerima 1 truk trailer setiap 12-18 bulan sekali. Bisa dibayangkan seberapa besarnya keuntungan apabila kita menggunakan PLTN sebagai pembangkit listrik di Indonesia.
(1 gram uranium dapat menghasilkan energi panas yang setara dengan hasil pembakaran 4 ton bahan bakar batubara, dan 2 ton bahan bakar minyak bumi)
Kalau bicara statistik, dengan teknologi yang telah berkembang saat ini bisa dibilang bahwa peluang manusia mati karena PLTN lebih rendah daripada peluang manusia mati karena kejatuhan meteor. Mitos bahwa bahan bakar nuklir komersil bisa dijadikan sebagai senjata pemusnah masal tidaklah benar, teknologi yang diperlukan untuk merubah bahan bakar Uranium menjadi bom nuklir tidaklah mudah dan tidak bisa dilakukan oleh teroris yang tidak punya laboratorium ekstra mahal. Penggunaan Uranium sebagai bom nuklir memerlukan teknik pengayaan yang berbeda dengan penggunaan uranium sebagai bahan bakar PLTN.
Kapasitas pembangkit listrik Indonesia saat ini adalah sebesar 33.352 MW. Kapasitas tersebut berasal dari pembangkit milik PT. PLN sebesar 28.041 MW atau 84,06% dari total kapasitas terpasang, pembangkit swasta (IPP) sebesar 4.244 MW atau 12.72%, dan pembangkit terintegrasi (PPU) sebesar 1.066 MW atau 3,22%.
Bukankah akan lebih bijaksana kalau kita sebagai masyarakat Indonesia jangan terlalu paranoid terhadap PLTN agar bisa menjadi bangsa yang mandiri akan energi listrik. Melalui tulisan ini saya mengajak seluruh pembaca untuk mulai peduli dengan keadaan kelistrikan negara kita. Indonesia sebenarnya memiliki tenaga ahli dibidang nuklir yang cukup dan sudah layak untuk memiliki PLTN dibandingkan negara berkembang lainnya, sayangnya Indonesia tidak berani melakukannya karena faktor politik.
Pemerintah Indonesia setuju bahwa kita memerlukan energi nuklir dimasa depan dan menyiapkan tenaga profesional dengan sangat baik. Namun tetap menjadikannya mustahil untuk membangunnya dalam jangka waktu 10 tahun ini. Sepertinya Indonesia akan mulai membangun PLTN persis disaat semua orang membutuhkannya. Ini adalah cermin dari respon pemerintah yang sangat lemah akan kebutuhan energi listrik nasional dan pembangunan pembangkit-pembangkit listrik yang baru dengan segera.
Bukankah akan lebih bijaksana kalau kita sebagai masyarakat Indonesia jangan terlalu paranoid terhadap PLTN agar bisa menjadi bangsa yang mandiri akan energi listrik. Melalui tulisan ini saya mengajak seluruh pembaca untuk mulai peduli dengan keadaan kelistrikan negara kita. Indonesia sebenarnya memiliki tenaga ahli dibidang nuklir yang cukup dan sudah layak untuk memiliki PLTN dibandingkan negara berkembang lainnya, sayangnya Indonesia tidak berani melakukannya karena faktor politik.
Pemerintah Indonesia setuju bahwa kita memerlukan energi nuklir dimasa depan dan menyiapkan tenaga profesional dengan sangat baik. Namun tetap menjadikannya mustahil untuk membangunnya dalam jangka waktu 10 tahun ini. Sepertinya Indonesia akan mulai membangun PLTN persis disaat semua orang membutuhkannya. Ini adalah cermin dari respon pemerintah yang sangat lemah akan kebutuhan energi listrik nasional dan pembangunan pembangkit-pembangkit listrik yang baru dengan segera.
Artikel lainnya tentang PLTN :


No comments:
Post a Comment